
Dibalik keindahan objek wisata danau Toba tersimpan bahaya yang dapat memusnahkan seluruh manusia di muka Bumi jika tidak dirawat dengan baik.
Seharusnya pernyataan ilmuwan NASA tentang lebih berbahayanya potensi ledakan Danau Toba dibandingkan tabrakan asteroid dst. bisa membuat proyek TOBA SOCIETY lebih bercuan dibandingkan PLANETARY SOCIETY.
Efek perubahan iklim yang terjadi jika Toba “mengamuk” tentunya jauh lebih mengerikan dibandingkan hanya sekedar efek gas rumah kaca.
Lalu mengapa hal ini kurang diperhatikan masyarakat Dunia?
Hal ini dikarenakan tidak adanya inovasi tingkat tinggi pada sistem objek wisata Danau Toba.
Solusi terbaik adalah dengan mempersenjatai objek wisata Danau Toba dengan TBP (dengan “core technology” berupa MINI KUANTUM KOMPUTER PANCANOMICS) dengan basis inovasi tingkat tinggi sehingga proses RE-BRANDING objek wisata Danau Toba akan memiliki efektivitas tinggi, tepat sasaran dan relevan untuk kemajuan wisata Nuswantoro.
BISNIS WISATA LOKAL AKAN LARIS DAN BERKEMBANG PESAT DENGAN SKEMA “FEAR FACTOR” DAN INOVASI SAINS TINGKAT TINGGI!
Banyak yang tidak sadar bahwa saat pandemi objek wisata antariksa yang biayanya bisa mencapai ratusan milyar rupiah akan tetapi peminatnya malah meningkat sebanyak 80% setelah sering digembar-gemborkannya berita yang berisi tentang bahaya asteroid yang akan menabrak Bumi-“fear factor”.
Bayangkan pendapatan bisnis wisata tersebut jika dari 200.000 orang warga Indonesia yang berstatus kaya menjadi peminat dan membayar objek wisata tersebut.
Bayangkan CUAN yang diperoleh objek wisata tersebut jika 40% penduduk kaya di seluruh dunia ikut dan membayar fasilitas wisata antariksa tersebut.
Lalu bisakah objek wisata lokal seperti wisata Danau Toba bersaing dan mengalahkan keviralan objek wisata bangsa Eropa tersebut?
In syaa Allah bisa dengan inovasi tingkat tinggi!
Oknum Eropa membuat seluruh manusia merasa takut dengan sebuah berita sehingga dari sana terciptalah sebuah profit yang besar;
Berita tentang asteroid yang akan datang diatur untuk menghapus bagian dunia ini dan membuatnya tidak dapat dihuni untuk masa depan yang dapat diperkirakan tidak diragukan lagi akan mendorong kepanikan massal dan upaya relokasi ke bagian “aman” planet ini.
“Ketika lebih banyak pengamatan terjadi, lokasi dampak akan menjadi lebih spesifik daripada “setengah dunia” yang merupakan titik awal dalam skenario PDC,” Dr Bruce Betts, kepala ilmuwan Planetary Society dan kepala program pertahanan planet, mengatakan kepada Daily Star.
“Jadi lebih sedikit pengungsi, tetapi jika dampaknya tidak bisa dihindari masih krisis pengungsi yang besar.”
Warga kaya kemungkinan akan mengalami sedikit kesulitan bergerak di seluruh dunia. Selandia Baru sudah menjadi bolthole populer bagi miliarder seperti Peter Thiel, yang diberikan kewarganegaraan untuk banyak kontroversi dan diduga telah mendirikan “bunker kiamat” di negara kepulauan itu jika bencana seperti itu pernah terjadi.
Namun kebanyakan orang tidak akan memiliki sarana untuk merelokasi secara pribadi dengan uang receh mereka sendiri, yang berarti beberapa jenis program suaka darurat perlu ditetapkan untuk memungkinkan orang melarikan diri.
Ini kemungkinan akan menyebabkan ketegangan besar pada sumber daya negara dan benua “aman”, dan tidak ada yang mengatakan persyaratan apa yang mungkin mereka butuhkan untuk masuk.
Bayangkan jumlah total keuntungan dari terkumpulnya dana sebesar 500 juta rupiah tiap orang yang menjadi member tahunan PLANETARY SOCIETY dikalikan dengan jumlah seluruh penduduk Asia!
Padahal ada yang lebih jauh!
Jauh lebih penting dan realistis dibandingkan isu jatuhnya asteroid!
Ini bukan pendapat saya.
Tapi ilmuwan NASA sendiri yang menyatakan bahwa ancaman danau Toba lebih besar daripada ancaman benturan benda angkasa.
Sudah menjadi fakta bahwa Toba menyebabkan “Kemacetan Evolusi” pada manusia saat letusan terakhirnya. Selain itu Toba lebih dekat dengan wilayah berpenduduk terbesar di dunia, India, Cina, dan Indonesia, sehingga dapat membunuh lebih dari 2 miliar manusia.
Meski demikian, karena baru meledak, Toba meletus 74 ribu tahun lalu dibandingkan Yellowstone 640 ribu tahun lalu, meski Toba hampir 3 kali lebih besar, tapi siklusnya masih lama. Dalam hal ini Yellowstone cukup lebih berbahaya.
“Saya adalah anggota Dewan Penasihat NASA untuk Pertahanan Planet, yang mempelajari cara-cara yang bisa dilakukan NASA untuk melindungi planet dari asteroid dan komet,” kata Brian Wilcox dari Laboratorium Propulsi Jet (JPL) di California Institute of Technology.
“Saya menyimpulkan dalam penelitian itu bahwa ancaman gunung api super jauh lebih besar daripada asteroid dan komet.”
Pernyataan dewan penasehat NASA seakan memberikan sindiran halus bagi yang masih percaya dengan segala proyek ruang angkasa dan menunjukkan fakta dan realita tersembunyi setelah sebelumnya kita berkali-kali ditipu dengan isu kiamat 2012 dll.
Pengalihan isu seperti ini membuat manusia lalai dalam menjaga lingkungan sekitar karena aliran dana global berputar pada proyek sains fiksi. Sehingga perubahan iklim buruk terjadi secara global akibat sekelompok oknum yang menguasai pikiran mayoritas manusia melalui media dan kurikulum.

Untuk memperbaiki hal ini, mari kita bentuk TOBA SOCIETY untuk mengumpulkan dana dari bangsa Eropa yang telah menikmati kelezatan objek pariwisata tersebut sebagai tuntutan tanggung jawab keselamatan umat manusia, perawatan danau, kredit karbon, biaya inovasi dst.!
Rizal Pahlevi
OWNER PROGRAM INOVASI TINGKAT TINGGI PANCANOMICS™
9 tanggapan untuk “SOLUSI INOVASI TINGKAT TINGGI UNTUK ISU IKLIM GLOBAL”