
Sudah seratus tahun semenjak kehancuran KESULTANAN TURKI, iklim global semakin panas dan berhawa negatif serta mendatangkan bencana di seluruh Dunia. Terbukti AUKUS sudah tak layak memimpin ekonomi Dunia, sudah saatnya bangsa Indonesia memimpin ekonomi Dunia diawali dengan revolusi kurikulum basis inovasi tingkat tinggi.
“Pada tanggal 15-18 Juni 1999, diadakan konferensi, Pemerintah China menyadari bahwa untuk bisa bertahan menghadapi globalisasi perlu menyiapkan generasi muda yang kreatif dan inovatif.Apalagi China menghadapi masalah pencemaran lingkungan yang semakin parah dan populasi penduduk yang terus bertambah. Pada bulan September 2001 dikeluarkan kurikulum baru yang menitikberatkan pada inovasi dan kemampuan mengaplikasikan teori dalam kehidupan sehari-hari.”
Semakin tinggi tingkatan inovasi bisnis suatu Bangsa dan Negara maka akan semakin banyak pendapatan Negara sehingga semakin makmur ekonomi bangsanya.
Ada beberapa poin yang perlu diperhatikan;
1. Pertama dan yang utama sebenarnya adalah dengan memusnahkan kalender masehi yang merupakan kalender berisi dewa-dewa kehancuran dan korup.
Kelender ini sebenarnya sempat ditolak Amerika dan United Kingdom karena mereka tahu bahaya dari diterapkannya kalender pagan tersebut.
Negara manapun sekalipun Arab Saudi (yang dijaga Malaikat) akan banyak bencana dan merajalelanya kasus korupsi di kalangan pejabatnya selama Negara tersebut memakai kalender Masehi.
Solusi terbaik adalah segera upayakan agar sistem kalender Negara menjadi kalender hijriyyah dengan contoh skema berikut ini:
https://telegra.ph/MUSNAHKAN-KALENDER-MASEHI-AGAR-NEGERI-BERDIKARI-12-31
Dengan memusnahkan mental korupsi pejabat melalui skema inovasi teknologi kalender Negara maka proyek memperbaiki iklim akan lancar dan resiko kemungkinan mangkrak akan semakin kecil.
2. Program memusnahkan sampah JABODETABEK yang berfungsi untuk mengatasi banjir dan memperbaiki kesehatan serta ekonomi rakyat sangatlah penting sebelum ber-IKN ria. Karena bisa jadi benefit yang dihasilkan kedepannya dari program ini bisa digunakan untuk PEMBANGUNAN IKN.
Potensi CUAN yang diperoleh dengan program ini adalah 3.000 triliun rupiah.
Bagaimana tidak?!
Dengan berhasilnya Jabodetabek dalam mengatasi sampah maka bencana banjir menjadi teratasi sehingga akses transportasi menjadi lancar, kesehatan rakyat meningkat dan hawa positif perkembangan bisnis akan meningkat dst.
Dari segi efisiensi maka anggaran yang diperlukan untuk tiap 44 kecamatan di Jabodetabek 100 miliar rupiah (belum termasuk maintenance dan sparepart teknologi).
Bandingkan dengan proyek sumur resapan-300 miliar lebih namun tidak berdampak signifikan sama sekali dalam mengatasi banjir JAKARTA.
3. Aksi nyata seperti RETANUKTUM (Reboisasi, Tanam Bunga, Nuklir dan Kuantum Komputer) serta inovasi GREEN-BLUE TECHNOLOGY perlu segera diimplementasikan sebagai pengganti konsep “smart city” yang mengabaikan AMDAL. Sudah sangat jelas di depan mata konsep “smart city” yang digaungkan tim inovasi Eropa tidak cocok diterapkan di Indonesia bahkan di Dunia karena akan memunculkan mafia dan merusak seluruh ekosistem akibat dari mengabaikan AMDAL secara hakikat.
“Berkurangnya jumlah dan menghilangnya lebah, serangga liar dan serangga lain (akibat kegiatan industri dan tata kota -” smart city ” yang melalaikan AMDAL) yang membantu penyebaran serbuk sari akan memiliki konsekuensi serius bagi umat manusia dan pasokan pangan global, demikian peringatan yang dikeluarkan oleh PBB. Keberadaan lebah mendukung 170.000 spesies tanaman yang pada gilirannya mendukung lebih dari 200.000 spesies hewan.”
4. Perlunya kedaulatan teknologi dalam memperbaiki iklim global agar memiliki akurasi tinggi, tepat sasaran dan tepat manfaat. Kedaulatan dan independensi teknologi diperlukan agar jangan sampai bangsa sendiri tidak lebih tahu kondisi iklim, kontur dan lingkungannya sendiri dibanding bangsa dari Negara lain.
“Bagaimana mungkin suatu Negara “X” bisa lebih mengetahui kondisi wilayah (iklim, kontur, lingkungan dll.) Negara “Y”, sementara bangsa Negara “Y” tidak tahu kondisi wilayahnya sendiri yang sebenarnya?!”
Inilah akibat tidak adanya kedaulatan teknologi.
Solusi?
SENJATA YIN-YANG UNTUK KEDAULATAN TEKNOLOGI NEGERI.
5. Berseberangan dengan Elon Musk dengan proyek sayembaranya dalam menghapus emisi karbon, Bill Gates justru akan menambah emisi karbon secara langsung dengan proyek “meredupkan cahaya matahari” oleh sebuah aerosol sulfat/karbonat.
Bagaimana tidak menambah emisi karbon?! Justru dengan metode “geo-engineering” tersebut maka daya serap tanaman terhadap karbon dioksida akan berkurang karena sistem grana dalam daun akan kekurangan pasokan energi cahaya matahari untuk mengikat dan memasak karbon dioksida dalam rangkaian proses fotosintesa.
“Primary purpose of grana is not to allow regulation of light harvesting A second, and related, hypothesis for the function of grana is that they allow regulation of light harvesting and, particularly, control of the balance of energy flow between Photosystem II and Photosystem I.”
Oleh karena itu, banyak juga ilmuwan yang memperingatkan bahayanya proyek tersebut.
Sebenarnya solusi aplikatif yang terbaik untuk memperbaiki iklim global terbagi menjadi dua langkah inovasi tingkat tinggi.
Langkah pertama:
Minimalisasi emisi karbon dengan optimalisasi kualitas pembakaran bahan bakar fosil industri dengan teknologi tinggi – incenerator fusi dan reaktor yang bersih dan bebas emisi.
Langkah kedua:
Optimalisasi pengikatan emisi karbon dengan program “TOBA SOCIETY“.
Dengan kelima skema di atas maka industri pertanian hingga industri digital Indonesia akan berpotensi meraih masing-masing pendapatan bersih minimal 9.000 trilyun rupiah per tahun tanpa perlu memiliki proyek fotosintesa buatan ala KOREA.
RIZAL PAHLEVI
OWNER PROGRAM INOVASI TINGKAT TINGGI PANCANOMICS
3 tanggapan untuk “MERAUP CUAN DARI MEMPERBAIKI IKLIM GLOBAL”